Muslimin Sindangkerta

sukseskan wajib belajar 12 tahun

Menyentuh Lain Jenis yang Bukan Mahram-nya

Posted by musliminsindangkerta pada 25 November 2010

Apakah menyentuh lain jenis dapat membatalkan wudhu’?

Menurut pendapat Imam Syafi’i RA, menyentuh lain jenis yang bukan mahram iru membatalkan wudhu’, baik yang menyentuh ataupun orang yang disentuh. Sebagaimana yang disebutkan dalam kitab al-Fiqh al-Manhaji:

لَمسُ الرِجُلِ زَوجَتَهُ أوِ المَر أَهةَ الأَ جنَبِيَةَ مِن غَيرِ حَإلِ فَإنَحُ يَنتَقظُ وُضُوؤُه وَوُضُؤُهَا وَالأَ جنَبِيَةُ هِيَ كُلِ امرَأَةِ يَحِلُ لَهُ الزَوَا جُ بِهَا

“Seorang laki-laki yang menyentuh istrinya atau perempuan ajnabiyyah (yang bukan mahramnya) tanpa penghalang maka wudhu’ laki-laki dan perempuan itu menjadi batal. Yang dimaksud dengan ajnabiyyah (perempuan lain) adalah setiap wanita yang halal dinikahi,” (Al-Fiqh al-Manhaji, Juz I, hal 63)

Pendapat ini didasarkan firman Allah SWT:

“dan jika kamu sakit atau sedang dalam perjalanan atau kembali dari buang air atau kamu menyentuh (mulasamah) perempuan lain (yang bukan mahramnya), kemudian kamu tidak menjumpai air, maka bertayammum-lah kamu dengan tanah yang baik (suci).” (QS. An-Nisa’, 43)

Dalam kitab al-Muwaththa’ disebutkan tentang penjelasan ‘Abdullah bin ‘Umar RA mengenai apa yang dimaksud mulasamah dalam ayat tersebut:

“Dari ‘Abdullah bin ‘Umar , ia berkata, “Kecupan seorang suami kepada istrinya dan menyentuh dengan tangannya termasuk mulasamah. Maka siapa saja yang mengecup istrinya dan menyentuhnya, maka ia wajib melakukan wudhu.” (Al-Muwaththa’, Juz II, hal 65)

Lalu, bagaimana dengan Hadits yang menjelaskan persentuhan Nabi SAW dengan sebagian istrinya padahal Nabi SAW dalam keadaan suci dari hadats kecil, seperti dalam Hadits ‘Aisyah RA:

“Dari ‘Aisyah RA istri Nabi SAW, sesungguhnya ia berkata, “saya tidur di dekat Rasulullah SAW, sedangkan dua kakiku ada didepan Rasul SAW. Apabila akan sujud, nabi SAW meraba kakiku (dengan tangannya) dan aku menarik kakiku. Dan setelah Nabi SAW berdiri aku bentangkan lagi kedua kakiku.” (Shahih al-Bukhari, 369)

Maka hadits ini harus diartikan bahwa Nabi SAW ketika itu menggunakan penghalang, sehingga kulit beliau tidak bersentuhan langsung dengan kulit istrinya. Sebagaimana keterangan Imam Nawawi dalam kitab al-Majmu:

“Jawaban atas Hadits ‘Aisyah RA tentang menyentuhnya tangan beliau ke tumit Nabi SAW, maka hal itu boleh jadi menggunakan tabir.” (Al-Majmu’, Juz II. hal 22)

Disamping itu pula, hadits ‘Aisyah RA tersebut masih mengandung beberapa kemungkinan. Yakni ada kemungkinan Nabi SAW menyentuh menggunakan penghalang (kain atau yang semisalnya) atau tidak. Tidak ada kejelasan apakah Nabi SAW menyentuh kaki sayyidah ‘Aisyah secara langsung atau dengan perantara. karena itu hadits tersebut tidak dapat dijadikan dalil untuk menyatakan bahwa menyentuh istri tidak membatalkan wudhu’. Sebagaimana kaidah yang dikemukakan oleh Imam Syafi’i RA:

“Beberapa kejadian yang masih menimbulkan berbagai kemungkinan, maka ia tercakup dalam dalil mujmal (global) dan tidak bisa dibuat dalil.” (Ghayah al-Wushul, 74)

Dapat disimpulkan, sesuai dengan dalil-dalil yang telah diungkapkan diatas, menyentuh istri dapat membatalkan wudhu’

semoga berguna

(sumber: Fiqh)

Satu Tanggapan to “Menyentuh Lain Jenis yang Bukan Mahram-nya”

  1. good information, you write it very clean. I am very lucky to get this tips from you.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: