Muslimin Sindangkerta

sukseskan wajib belajar 12 tahun

Shalat ‘Id di Lapangan atau di Mesjid?

Posted by musliminsindangkerta pada 10 September 2010

Pada Hari Raya ‘Idul Fitri ataupun ‘Idul Adhha, semua umat Islam disunnahkan untuk melaksanakan shalat ‘Id (shalat hari raya). Mereka ada yang melaksanakannya di mesjid dan ada pula yang melaksanakannya di lapangan terbuka. Dan masing-masing pihak mengaku bahwa apa yang mereka lakukan adalah yang paling utama. Sebenarnya manakah yang lebih utama?

Sejak awal, Nabi SAW membangun mesjid dimaksudkan sebagai tempat ibadah. Dan juga sebaagai salah satu bentuk syi’ar Islam. Karena itulah semua bentuk perbuatan yang mempunyai makna penghambaan diri pada Allah SWT serta mengandung syi’ar Islam sebaiknya dilaksanakan di mesjid. Karena di dalam mesjid itu berkumpul orang-orang yang menyucikan diri, ber-taqarrub (melakukan pendekatan diri) kepada Allah. sebagaimana firman-Nya:

“sesungguhnya mesjid yang didirikan atas dasar taqwa sejak hari pertama adalah lebih berhak kamu bertaqwa didalamnya. Didalamnya ada orang-orang yang senang membersihkan diri. Dan Allah senang kepada orang-orang yang membersihkan diri.” (QS. Al-Taubah. 108)

Allah SWT menjelaskan bahwa masjidlah tempat yang layak untuk beribadah kepada-Nya, bukan tempat yang lain. Jadi, segala bentuk penghambaan diri kepada Allah SWT semestinya dilaksanakan di Masjid. Misalnya Shalat berjama’ah lima waktu. Masuk dalam kategori ini adalah Shalat ‘Id. Karena didalamnya terkandung aspek penghambaan diri kepada Allah SWT serta syi’ar agama Islam, yakni sebagai ungkapan kebahagiaan umat Islam atas nikamat yang telah diberikan Allah SWT kepada mereka.

Atas dasar ini, ulama mengatakan bahwa selama mesjid masih dapat menampung Jama’ah, maka mengerjakan Shalat ‘Id di dalam mesjid lebih utama dari pada mengerjakannya di lapangan. namun jika masjid tidak dapat menampung jama’ah, misalnya masjid yang ada kecil, sementara yang akan shalat sangat banyak, ketika itu maka mengerjakan shalat di lapangan lebih utama dari pada di mesjid. Sebagaimana perkataan Syaikh Zakariya al-Anshari dalam Fath al-Wahhab:

“Mengerjakan Shalat ‘Id di masjid lebih utana, karena masjid merupakan tempat yang mulia. Kecuali karena ada halangan, seperti mesjid sempit.” (Fath al-Wahhab, 83)

Memang, Nabi Muhammad SAW selalu melaksanakan shalat ‘Id di lapangan. Namun itu bukan tanpa alasan. Nabi Muhammad SAW melakukannya kaena masjid beliau sempit dan tidak muat untuk menampung jama’ah shalat ‘Id. Sebagaimana di sitir oleh Ibnu Hajar al-Haitami dalam kitab Tuhfah al-Muhtaz:

“Ada yang mengatakan bahwa shalat ‘Id dilapangan itu lebih utama, karena ittiba’ (ikut perbuatan Nabi). Namun pernyataan ini dapat dibantah, karena sesungguhnya Nabi SAW melakukannya sebab masjid yang beliau bangun terlalu kecil (sehngga tidak dapat menampung jama’ah).” (Tuhfah al-Muhtaj, Juz III. 24)

Imam Syafi’i RA mengatakan dalam al-Umm:

“Telah sampai pada kami bahwa pada setiap dua hari raya, Rasulullah SAW selalu keluar menuju tempat shalat (musholla) di Madinah. Begitu juga yang dilakukan mayoritas penduduk di berbagai daerah. Lain halnya dengan penduduk Makkah. Kami tidak pernah mendengar dari ulama salaf bahwa mereka melaksanakan shalat dua hari raya kecuali di masjid mereka.” (Al-Umm, Juz I. hal 267)

Dengan demikian, selama tidak ada halangan, maka ;ebih utama mengerjakan shalat ‘Id di masjid. Kecuali kalau ada udzur, ketika itulah shalat ‘Id lebih baik dikerjakan di lapangan

Satu Tanggapan to “Shalat ‘Id di Lapangan atau di Mesjid?”

  1. tafridefraaz said

    yang penting t4nya suci
    yang solat ikhlas

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: