Muslimin Sindangkerta

sukseskan wajib belajar 12 tahun

Nikah Mut’ah (Kawin Kontrak)! bolehkah???

Posted by musliminsindangkerta pada 6 September 2010

Ada kecenderungan dari sebagian kalangan untuk mencari solusi menyalurkan nafsu seksualnya dengan cara nikah mut’ah. Pernikahan ini dilakukan karena dianggap sebagai salah satu model pernikahan yang disahkan dalam agama Islam. Bagaimana sesungguhnya?

Allah SWT menciptakan manusia dilengkapi dengan nafsu seksual. Dengan adanya dorongan seksual tersebut, kemudian manusia bisa memiliki keturunan untuk melangsungkan generasi manusia. Itu adalah fitrah yang dimiliki oleh manusia, bahkan oleh seluruh makhluk hidup.

Namun dorongan  nafsu seksual itu tidak boleh disalurkan sebebas-bebasnya, karen akan banyak bahaya yang akan mengiringinya. Timbulnya berbagai penyakit kelamin, bahkan salah satu penyebab HIV karena penyaluran nafsu seksual yang tidak terkontrol. Juga akan merugikan perempuan karena memang perempuanlah yang banyak menanggung akibatnya, terutama ketika terjadi kehamilan.

Akibat selanjutnya adalah kaburnya bahkan hilangnya jalur nasab seseorang, padahal hal tersebut merupakan sesuatu yang sangat penting dalm kehidupan manusia. Setiap orang pasti mengingingkan adanya kejelasan statusnya dalam masyarakat. Siapa bapaknya, ibunya, saudaranya, kakek, nenek dan seterusnya.

Begitu pula nafsu seksual tersebut tidak bo;eh dikekang atau dibunuh. itu sangat bertentangan dengan fitrah manusia yang hidup berpasang-pasangan, dengan nafsu seksual sebagai salah satu hiasannya. Dan dapat juga menyebabkan hilangnya keturunan manusia.

Sebagai jalan tengah maka Islam membuuat aturan pernikahan. Dengan menikah seseorang dapat menyalurkan kebutuhan seksualnya secara benar, bersih, dan bertanggung jawab. Pernikahan meniscayakan adanya hak dan kewajiban. Begitu pula anak yang dilahirkan memiliki status yang jelas dan mendapat kasih sayang yang penuh dari kedua orangtuanya.

Di dalam Islam, tujuan pernikahan bukna hanya untuk menyalurkan hasrat seksual semata, lebih dari itu yakni untuk membentuk keluarga sakinah, mawaddah, wa rahmah sehingga ketenangan akan terwujud. Firman Allah SWT

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dian menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tentram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar-Rum, 21)

Keluarga yang sakinah mawaddah wa rahmah akan terwujud apabila suami dan istri tetap bersatu dalam suatu perkawinan. Tidak terpisah oleh ruang dan waktudan juga tidak dihancurkan oleh badai perceraian. Begitu pula harus ada kerjasama dan saling pengertian dari kedua belah pihak untuk saling mengisi dan berbagi.

Dari sinilah kita bisa melihat nikah mut’ah yang disitilahkan oleh Al-Khumaini dengan nikah al-munqathi’ (terputus):

“Nikah Munqathi’ (terputus) disebut juga nikah mut”ah hukumnya sama juga seperti nikah da’im (seterusnya tanpa batas waktu) yang membutuhkan akad ijab dan qobul yang diucapkan.” (Zubdah al-Ahkam, 126)

Sudah tentu didalmnya tidak terdapat tanggung jawab karena setelah sampai masa waktunya, pernikahan akan berakhir tanpa ada konsekuensi apapun bagi laki-laki, sementara perempuan harus menjalani iddah. Yujuan pernikaha untuk mebentuk rumah tangga sakinah mawaddah wa rahmah tidak akan terpenuhi, dan justru menyengsarakan kaum perempuan dan anak yang lahir dari hasil pernikhan tersebut.

Dengan alasan inilah sangat wajar jika Islam melalui sabda Nabi Muhammad SAW melarang nikah mur’ah dalam agama Islam. Dalam sebuah hadits:

“Dai Hasan bin Muhammad bin Ali RA dan saudaranya ‘Abdullah bin Muhammad dari ayah keduanya, sesungguhnya ‘Ali bin Abi Thalib RA berkata kepada Ibnu ‘Abbas, Bahwa Rasulullah SAW melarang nikah mut’ah pada peperangan dan memakan daging keledai jinak pada peperangan Khaibar.” (Shahih al-Bukhari, 3894)

Inilah hadits yang dijadikan dasar para ulama untuk melarang nikah mut;ah. Dari sini pula kita dapat ketahui bahwa pelarangan nikah mut’ah itu bukan hanya dari hadits yang disampaikan sayyidina ‘Umar RA saja, tetapi juga dijelaskan oleh sayyidina Ali RA. DR. Musa al-Musawi mengatakan bahwa yang mengatakan pengharaman mut’ah karena perintah ‘Umar bin Khaththab gugur karena perbuatan Imam Ali RA yang tetap mengharamkan mut’ah selama masa pemerintahannya. dan ia tidak memerintahkan diperbolehkannya mut’ah.

Kesepakatan adanya keharaman nikah mut’ah ini ternyata tidak hanya bersumber dari kalangan sunni saja, sebagaimana di klaim oleh sebagian orang. Siapa saja yang mau menelusuri ahlul bait yang sejati akan menemukan kesimpulan yang sama bahwa nikah mut’ah itu memang haram.

“Dari Zaid bin Ali dari ayahnya, dari Ali bin Abi Thalib RA, ia berkata, “Rasulullah SAW telah mengharamkan pada hari peperangan khaibar dagiing keledai peliharaan dan  nikah mut’ah.” (Al-Tadzhib, Juz II, hal 186)

Bahkan Imam Ja’far al-Shadiq, salah seorang tokoh dari kalangan ahlul bait dengan tegas menyatakan bahwa nikah mut’ah tidak adanya dengan zina. Ada banyak sumber yang akurat menjelaskan hal ini. Diantaranya adalah:

“Al- Qashthallani mengatakan, “sesungguhnya telah ada Ijma’ tentang keharaman nikah mut’ah kecuali golongan Rafidhah (syiah). Dan Imam Baihaqi mengutip dari Ja’far sl-Shiddiq bahwa ia ditanya tentang nikah mut’ah. Maka Imam Ja’far menjawab bahwa hakikatnya itu adalah perbuatan zina.” (Nikah al-Mut’ah fi al-Islam Haram, 32)

“Dari ‘Abdillah bin Sinan, ia berkata, “Saya bertanya kepada Abu Abdillah AS (Ja’far al-Shadiq) tentang mut’ah. beliau menjawan, “Janganlaj engkau kotori dirimu dengan nikah mut’ah itu.” (Bihar al-Anwar, Juz 100, hal 318)

Dapat disimpulkan bahwa, berdasarkan hadits yang disampaikan sayyidina Ali RA, dan didukung pula oleh pendpat ahlul bait yang lain, nikah mut’ah hukumnya haram, sama dengan zina karena sangat jauh dari tujuan pernikahan untuk membentuk keluarga sakinah mawaddah wa rahmah.

sumber: Fiqh Tradisional

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: