Muslimin Sindangkerta

sukseskan wajib belajar 12 tahun

Zakat untuk Guru Ngaji

Posted by musliminsindangkerta pada 4 September 2010

Di kampung-kampung, biasanya masyarakat memberikan zakatnya kepada kyai-kyai (guru ngaji). Bagaimana hukumnya?

hmmmm… untuk itu, kita lihat lagi penjelasan sebelumnya bahwa  yang berhak menerima zakat hanya terbatas pada delapan golongan saja. Sementara yang lain tidak boleh menrimanya. Demikian pula dengan guru ngaji. Zakat hanya dapat diberikan kepada guru ngaji yang tidak mampu. Apabila tergolong orang yang mampu, maka mereka tidak boleh menerima harta zakat. Hal ini disamakan dengan orang yang sibuk menghafal hadits, memperdalam ilmu fiqh atau mengerjakan sesuatu yang fardhu kifayah sehingga tidak memiliki wktu yang cukup untuk mencari penghasilan yang layak. Dalam kitab I’anah al-Thalibin dijelaskan:

“Termasuk sesuatu yang tidak mencegah keduanya (status fakir dan miskin) adalah seseorang yang meninggalkan kasab yang dapat memperbaiki ekonominya karena waktunya hanya tersita untuk menghafal al-Qur’an, memperdalam ilmu fiqh, tafsir, atau Hadits, ataupun ia sibuk melaksanakan sesuatu yang menjadi wasilah tercapainya ilmu tersevbut. Maka orang-orang tesebut dapat diberikan zakat, agar mereka dapat melaksanakan usahanya itu secara optimal. Sebab manfaatnya akan dirasakan serta mengena kepada masyarakat umum, disamping juga perbuatan itu merupakan fardhu kifayah.” (I’anah al-Thalibin, Juz II hal 189)

Disamping itu, mengajarkan al-Qur’an merupakan perbuatan yang sangat terpuji. Dalam sebah Hadits disebutkan:

“Dari Utsman RA dari nabi SAW, beliau bersabda, “paling baik di antara kalian adalah orang yang belajar al-Qur’an dan mengajarkannya.” (Shahih al-Bukhari, 4639)

Dari sinilah, maka zakat bisa diberikan kepada guru ngaji yang tidak mampu. Ini wajar, karena umumnya para guru ngaji itu kehidupannya pas-pasan. Waktunya banyak disibukkan untuk mengayomi dan mengajarkan al-Qur’an atau yang lainnya, sehingga waktu untuk mencari nafkah tersita dengan tugas mulia itu. sebaliknya, guru ngaji yang sudah kaya raya atau kebutuhan sehari-harinya sudah terpenuhi, tidak diperkenankan menerima zakat.

sumber: Fiqh Tradisional

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: