Muslimin Sindangkerta

sukseskan wajib belajar 12 tahun

Mengkaji Perbedaan Bilangan Shalat Tarawih

Posted by musliminsindangkerta pada 2 September 2010

Pada Bulan Ramadhan, Ummat Islam disunnahkan melaksanakan shalat Tarawih. Dalam pelaksanaannya di Masyarakat, terdapat perbedaan. khususnya dalam jumlah rakaat. Ada yang mengerjakan 8 rakaat, 20 rakaat, bahkan ada yang 36 rakaat. pertanyaannya, manakah yang lebih utama dan sesuai dengan yang diajarkan Rasulullah SAW?

Bulan Ramadhan adalah bulan penuh berkah, rahmat dan maghfirah (ampunan). Oleh sebab itu, Nabi SAW menganjurkan untuk memperbanyak ibadah.

“Diriwayatkan darei Abu Hurairah RA, beliau berkata, “Rasulullah SAW bersabda, “Barang siapa yang beribadah pada bulan Ramadhan dengan dilandasi iman dan penuh keikhlasan, maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu.” (Shahih al-Bukhari, 1768)

Termasuk dalam hal ini adalah melakukan shalat Tarawih sehabis shalat Isya di bulan Ramadhan. Dinamakan Tarawih, karena setiap selesai dua salam (4 rakaat) dianjurkan istirahat sejenak. Tentang Shala Tarawih ini dijelaskan dalam hadits:

“Diriwayatkan dari Siti ‘Aisyah RA, bahwasanya Rasulullah SAW shalat di Masjid, lalu banyak orang shalat bersama beliau. Demikian pada malam berikutnya, beliau shalat dan bertambah banyak orang yang mengikuti beliau shalat. Pada malam ketiga dan keempat, orang-orang berkumpul menunggu beliau, tapi Rasulullah SAW tidak keluar (ke mesjid). Ketika pagi-pagi, beliau bersabda, “Sungguh aku lihat apa yang kalian perbuat tadi malam. tapi, aku tidak keluar karena aku takut kalau shalat itu diwajibkan pada kalian”. Siti ‘Aisyah berkata bahwa hal itu terjadi pada bulan Ramadhan.” (Shahih al-Bukhari)

Hadits ini menerangkan bahwa Nabi Muhammad SAW memang pernah melaksanakan shalat Tarawih. Mengenai rakaatnya belum dijelaskan secara rinci. Ada satu riwayat yang menjelaskan bahwa Nabi Muhamaad SAW mengerjakan shalat Tarawih di mesjid 8 rakaat, lalu beliau menambah bilangan rakaat itu dirumahnya dengan 12 rakaat.

Imam Malik dalam kitab Al-Muwaththa’ mengatakan:

“Dari Yazid bin Khushaifah, “Orang-orang (kaum muslimin) pada masa ‘Umar melakukan shalat Tarawih di bulan Ramadhan 23 raka’at” (Al-Muwaththa’, Juz I. hal 115)

Ini adalah dalil yang nyata yang menjelaskan jumlah rakaat shalat tarawih. Syaikh Ismail bin Muhammad al-Anshari menyatakan:

“Hadits ini dishahihkan oleh Imam Nawawi dalam kitab beliau, al-Khulashoh dan al-Majmu’, dan diakui oleh al-Zaila’i dalam kitabnya Nashb al-Rayah, dan dishahihkan oleh Imam al-Subki dalam kitabnya Syarh al-Minhaj, Ibn al-Iraqi dalam kitabnya Tharh al-Tatsrib, Al-‘Aini dalam kitabnya ‘Umdah al-Qari, al-Suyuthi dalam kitabnya al-Mashabih fi Shalat al-Tarawih, ‘Ali al-Qari dalam kitabnya Syarh al-Muwaththa’ serta ulama-ulama lain.” (Tashhih Hadits Shalah al-Tarawih ‘Isyrina Rak’ah, 7)

Dalam Sunan Tirmidzi disebutkan:

“Mayoritas ahli ilmu mengikuti apa yang diriwayatkan oleh sayyidina ‘Umar, ‘Ali dan sahabat-sahabat Nabi SAW tentang shalat Tarawih dua puluh raka’at. Ini juga merupakan pendapat al-Tsauri, Ibn al-Mubarak, dan Imam Syafi’i. Imam Syafi’i berkata, “Inilah yang aku jumpai di negara kami Makkah, mereka semua (penduduk Makkah) shalat Tarawih sebanyak dua puluh raka’at.” (Sunan al-Tirmidzi, 734)

Hal yang sama juga ditegaskan oleh Ibn Taimiyyah dan syaikh ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdil Wahhab:

” Imam Ibn Taimiyyah berkata dalam kitab Fatawa-nya, “Telah tebukti bahwa sahabat Ubai bin Ka’ab mengerjakan shalat Ramadhan bersama orang-orang waktu itu sebanyak dua puluh rakaat. Lalu mengerjakan witir tiga Raka’at. Kemudian mayoritas ulama mengatakan bahwa itu adalah sunnah. Karena pekerjaan itu dilaksanakan di tengah-tengah kaum Muhajirin dan Anshar, tapi tidak ada satupun diantara mereka yang menentang atau melarang perbuatan itu”. Dalam kitab Majmu’ Fatawi al-Najdiyah diterangkan tentang jawaban Syaikh ‘Abdullah bin Muhammad bin ‘Abdil Wahab tentang bilangan rakaat shalat Tarawih. Ia mengatakan bahwa setelah sahabat ‘Umar mengumpulkan manusia untuk shalat berjama’ah kepada Ubay bin Ka’ab, maka shalat mereka kerjakan adalah dua puluh rakaat.” (Tashhih Hadits Shalah al-Tarawih ‘Isyrina Rak’ah, 13-14)

Dan kalau melihat pada shalat Tarawih yang dilaksanakan di Masjidil Haram dan Masjid Nabawi, ternyata sejak dahulu hingga saat ini, shalat Tarawih selalu dikerjakan sebanyak 20 rakaat. Sebagaimana yang diceritakan oleh Syaikh Muhammad ‘Ali al-Shabuni mantan Guru Besar di Universitas Ummul Qura Makkah al-Mukarramah. ia menegaskan:

“Panutan kita kaum muslimin adalah dua (masjid), al-Haram yang mulia … (seterusnya)… Berapakah shalat tarawih yang dilaksanakan di sana, Sejak masa rasulullah SAW sampai zaman kita sekarang? Bukankah di kedua tempat itu shalat Tarawih dikerjakan sebanyak dua puluh rakaat. Padahal kedua tempat itu merupakan kiblat masjidnya kaum muslimin. maka apakah dapat diterima akal apabila kaum muslim bersepakat pada sesuatu yang mungkar dan dibuat buat dalam masalah agama, sedangkan yang lain diam membiarkannya. Padahal diantara mereka ada para ulama, ahli fiqh dan ahli hadits. dan kalau memang perbuatan tersebut tergolong munkar, sebagaimana yang dituduhkan oleh orang yang kurang memahami masalah tarawih ini, lalu kenpa perbuatan itu dilakukan secara terus menerus selama bertahun-tahun dan dari generasi ke generasi tanpa seorangpun yang mengingkarinya.” (Al-Hadyu al-Nabawi al-Shahih fi Shalah al-Tarawih, 73-75)

Dari sini jelas, bahwa bilangan shalat tarawih adalah 20 rakaat ditambah 3 rakaat untuk shalat witir. dan itulah yang seharusnya diikuti. KH Bisyri Mustafa menyatakan bahwa secara esensial melaksanakan shalat dua puluh rakaat itu berarti mengamalkan Hadits Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan keutamaan serta anjuran mengikuti jejak sahabat ‘Umar RA (Risalah Ijtihad dan Taqlid, 15) Hadits yang dimaksud adalah :

“dari Hudzaifah RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Ikutilah dua orang setelah aku, yakni Abu Bakr Ra dan ‘Umar Ra. ” (Sunan al-Tirmidzi, 3595)

Dan juga hadits Nabi Muhammad SAW:

“Dari Abi Dzarr ia berkata: “Saya mendengar Rasulullah SAW bersabda, “Sesungguhnya Allah SWT meletakkan kebenaran pada lisannya ‘Umar, terhadap apa yang dikaaknnya.” (Sunan Abi Dawud, 2537)

Lalu bagaimanakah dengan Hadits Sayyidatuna ‘Aisyah RA yang menjelaskan bahwa Rasulullah SAW melaksanakan shalat malam tidak lebih dari sebelas rakaat? yakni:

“Dari Sayyidatuna ‘Aisyah RA, ia berkata. “Rasulullah SAW tidak pernah menambah shalat malam pada bulan Ramadhan atau bulan lain melebihi sebelas rakaat.” (Shahih al-Bukhari, 1079)

Yang harus dicermati bahwa Hadits tersebut ada kalimat “pada bulan Ramadhan dan di luar bulan Ramadhan”. Ini artinya bahwa Shalat yang Nabi SAW lakukann bykan shalat tarawih. karena shalat Tarawih hanya dilakukan pada bulan ramadhan. Dalam kitab al-Fiqh al-Manhaji disebutkan:

“Adapun shalat tarawih itu hanya dilaksanakan pada bulan Ramadhan saja.” (al-Fiqh al-Manhaji, juz I. hal 238)

Karena itu, dalam kitab Tuhfah al-Muhyaj juz II hal 229, Ibn Hajar al-Haitami menyatakan bahwa hadits tersebut adalah dalil shalat witir, bukan dalil shalat Tarawih. Sebab dalam banyak riwayat disebutkan bahwa Nabi Muhammad SAW melaksanakan shalat witir bilangan maksimalnya sebelas rakaat. Diantaranya adalah hadits:

“Dari Abu Hurairah RA, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda, “Kerjakanlah shalat witir lima, tujuh, sembilan atau sebelas rakaat.” (hadits Riwayat al-Hakim dalam al-Mustadrak, juz I hal 606 Dan riwayat al-Baihaqi dalam Sunan al-Kubra, Juz III hal 31)

Dalam Hadits yg lain disebutkan:

“”Dari ‘Aisyah RA, “Rasulullah SAW melaksanakan shalat setelah melaksanakan shalat ‘Isya sebelas rakaat, yang dilakukan dengan satu salam setiap dua rakaat, dan shalat witir satu rakaat.” (Shahih Muslim, 1216)

Disamping menjelaskan bilangan shalat malam yang dilaksanakan Nabi Muhammad SAW, Hadits ini juga menjelaskan bahwa Nabi SAW melakukan salam setiap dua rakat. Artinya, shalat yang dikerjakan Nabi SAW itu dua rakaat-dua rakaat. Hal ini sesuai dengan tuntunan Nabi SAW tentang tata cara melaksanakan shalat malam. Nabi SAW bersabda:

“Dari Ibn ‘Umar, “Seorang laki-laki bertanya kepada Rasulullah SAW tentang shalat malam, Maka Nabi SAW menjawab, “shalat malam itu dua rakaat-dua rakaat.” (Shahih Muslim, 1239)

Lalu bagaimana dengan shalat Tarawih yang dilakukan secara berjama’ah? Hal ini juga dibenarkan bahkan dihukumi sunnah. dalam kitab Shahih Bukahri di jelaskan:

“Diriwayatkan dari ‘Abdurrahman bin ‘Abd al-Qari, beliau berkata, “Saya keluar bersama Sayyidina ‘Umar bin Khattab RA ke mesjid pada bulan Ramadhan. (didapati dalam mesjid tersebut) orang-orang shalat Tarawih berbeda-beda. Ada yang shalat sendiri-sendiri dan ada yang shalat berjama’ah”. lalu Sayyidina ‘Umar berkata, “Saya punya pendapat andaikata mereka aku kumpulkan dalam jama’ah dengan satu imam, niscaya itu lebih bagus”. lalu beliau mengumpulkan mereka dengan seorang imam, yakni Ubay bin Ka’ab. Kemudian satu malam berikutnya, kami datang lagi ke mesjid. Orang-orang sudah melaksanakan shalat Tarawih dengan berjama’ah di belakang satu imam. ‘Umar berkata, “Sebaik-baik bid’ah adalah ini. (shalat tarawih dengan berjama’ah)”. (Shahih al-Bukhari, 1871)

Dari sini dapat dipahami bahwa pelaksanaan shalat tarawih berjumlah dua puluh rakaat, dengan sepuluh kali salam. Lebih utama dilakukan dengan cara berjama’ah.

sumber : Fiqh Tradisional

“Menyikapi hal tersebut diatas, sebaiknya shalat Tarawih dilakukan dengan dua puluh rakaat dan berjamaah. Bagaimana dengan sebagian Umat Islam yang berbeda jumlah rakaatnya? perbedaan jgn dijadikan suatu perpecahan. mereka punya dasar tersendiri unutk melakukan itu. mari jadikan perbedaan sebagai suatu hal yang harus disyukuri, dan dijadikan sebagai jalan mempererat UKHUWAH ISLAMIYAH”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: