Muslimin Sindangkerta

sukseskan wajib belajar 12 tahun

Perhatian Sunnah Nabi terhadap Ilmu Pengetahuan, Ulama, dan Prestasi Ilmiah

Posted by musliminsindangkerta pada 28 Agustus 2010

Sunnah Nabi yang mulia penuh dengan hadits-hadits yang mendorong manusia untuk mencari ilmu pengetahuan. Juga menjelaskan derajat dan tingkatan ulama di sisi ALLAH SWT. Rasulullah SAW, sendiri mendorong para sahabat yang mulia untuk mencari ilmu pengetahuan. Sehingga beliau dalam beberapa peperangan membebaskan para tawanan jika mereka mau mengajarkan sepuluh orang  dari kaum muslimin. Ilmu pengetahuan adalah dasar kebaikan. Dalam ahal ini Rasul SAW bersabda.

“Siapa yang dikehendaki baik oleh Allah maka Dia akan membuatnya faqih dalam agama. Dan ilmu itu hanya daopat diraih dengan belajar” (HR Bukhari)

Rasul SAW menjelaskna bahwa siapa yang pergi untuk menuntut ilmu pengetahuan adalah seperti orang yang berjihad di jalan ALLAH SWT. Anas ra berkata bahwa Rasulullah bersabda.

“Siapa yang pergi menuntut ilmu, maka ia berada di jalan Allah hingga dia kembali” (HR tirmidzi)

Pahala penuntut ilmu yang ikhlas, sungguh-sungguh, dan menjalankan ilmu adalah surga. Rasulullah SAW bersabda.

“Siapa yang menempuh jalan untuk menuntut ilmu, niscaya Allah mudahkan baginya jalan menuju surga” (HR Bukahri)

Dan dalam menjelaskan keutamaan orang yang berilmu dan kedudukannya di sisi ALLAH SWT, Rasulullah SAW bersabda.

“Keutamaan seorang yang berpengetahuan dengan seorang yang ahli ibadah, adalah seperti keutamaan bulan dibandingkan planet-planet yang lain. Para ulama adalah pewaris para Nabi. Dan para Nabi tidak mewariskan Dinar atau Dirham, tapi mewarisi ilmu. Maka siapa yang mengambil ilmu itu, niscaya ia telah mendapatkan keberuntungan yang besar” (HR Abu Dawud dan Tirmidzi)

Diriwayatkan dari Abu Hurairah ra bahwa ia berkata, “Saya duduk satu jam untuk memperdalam agama lbebih saya senangi dari menghidupkan malam dengan ibadah hingga pagi”

Seorang yang alaim wajib menjalankan ilmunya dan bersifat ikhlas, serta tidak menyembunyikan ilmunya itu. Juga agar menjalankan ilmunya itu kepada manusia sehingga mereka dapat memanfaatkan ilmu itu. Rasulullah SAW telah menggambarkan hal itu, seperti dalam hadits yang diriwayatkan dari Abu Musa al-Asy’ari ra bahwa Rasulullah SAW bersabda.

“Perumpamaan petunjuk dan ilmu yang diamanahkan oleh Allah untuk aku bawa adalah seperti hujan yang lebat yang menimpa bumi. Maka, diantara tanah di bumi itu ada yang menyerap air hujan itu ntuk kemudian menumbuhkan pepohonan dan rumput yang banyak, diantara tanah itu ada pula yang bersifat keras yang mampu menampung air, sehingga banyak orang yang mengambil manfaat dari air yang ditampungnya itu. Dengan meminum dari situ, memberi minum hewan mereka dan mengairi tanaman mereka, air hujan itu juga menimpa kelompok tanah lain, yaitu yang bersifat keras seperti bebatuan, yang tak mampu menampung air juga tak dapat menumbuhkan pepohonan. Semua itu adalah perumpamaan orang yang memahami agam ini dan memberikan manfaat kepada orang lain dnegan ajaran yang aku bawa dari ALLAH ini, yaitu dengan mempelajarinya dan selanjutnya mengajarkannnya kepada orang lain, dan seperti perumpamaan orang yang sama sekali tak menyambut ajaran itu dan tidak menerima petunjuk Allah yang dikirim-Nya melalui diriku (Rasulullah SAW)” (HR Bukahri)

Abu Hurairah ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda.

“Siapa yang ditanya ilmu pengetahuan (yang ia kuasai) namun ia menyembunyikannya, maka ia akan dicambuk dengan api pada hari kiamat” (HR Abu Dawud dan Trmidzi)

Pahala ilmu pengetahuan yang bermanfaat akan terus mengalair dan sampai kepada pemiliknya seelah ia meninggal. Hal itu seperti dijelaskan oleh sabda Rasulullah SAW ini.

“Jika seorang anak adam mati, maka terputuslah amal perbuatannya kecuali dari tiga hal: sedekah jariah, ilmu yang bermanfaat, atau anak shaleh yang berdo’a baginya (orangtuanya)” (HR Ahmad)

Dan yang dimaksud ilmu pengetahuan adalah ilmu jenis apapun yang memberi manfaat kepada manusia dalam membangun dan mengembangkan mereka serta membantu mereka untuk beribadah kepada Allah SWT.

Pada hari kiamat orang yang berilmu pengetahuan akan ditanya tentang ilmunya, apa yang ia perbuat dengan ilmunya itu? Apakah ia sampaikan, ia ajarkan dan ia jalankan isinya, ataukah ia sembunyikan dan tidak diajarkan kepada seseorang serta tidak ia jalankan dalam kehidupannya?. Rasulullah SAW bersabda’

“Dua kaki anak Adam pada hari kiamat tidak akan bergerak hingga ia ditanyakan tentang empat perkara: tentang usianya digunakan untuk apa, tentang masa mudanya dihabiskan untuk apa, tentang hartanya dari mana ia dapatkan dan kemana ia gunakan, dan tentang ilmunya apa yang ia perbuat dengan ilmunya itu” (Muttafaq Alaih)

Rasulullah SAW menegaskan dalam hadits ini tentang segi-segi amaliah ilmu pengetahuan. Maka, ilmu pengetahuan yang tidak dijalankan isinya dan beku akan menjadi sesuatu yang tidak bermanfaat, jika tidak dipraktikkan secara nyata, dengan jalan menyebarkan dan mengubahnya menjadi gerak dalam kehidupan.

Ketika ilmu pengetahuan diangkat dan timbullah kebodohan, maka hal itu menjadi tanda hari Kiamat. Anas ra berkata bahwa Rasulullah SAW bersabda.

“diantara tanda  kiamat adalah diangkatnya ilmu pengetahuan, disebarnya kebodohan, di minumnya khamr dan ditampilkannya zina” (HR Bukhari)

“Allah tidak mencabut ilmu secara sekaligus dari manusia tapi dengan mematikan ulama, hingga tidak ada seorang yang alim, dan akhirnya manusia mengambil orang-orang bodoh sebagai tempat bertanya, mereka ditanya kemudian memberikan fatwa tanpa ilmu, sehingga mereka sesat dan menyesatkan” (HR Tirmidzi)

Nubuwah Nabi SAW tersebut telah terbuktikan kebenarannya. Karena pada zaman sekarang ini, sedikit sekali ulama yang menjalankan ilmunya dan ikhlas dalam membawa ilmunya itu. Juga banyak sekali orang yang mengelluarkan fatwa, padahal ia tak memenuhi syarat untuk berfatwa.

Dari keterangan tadi, jelaslah bahwa Sunnah Nabi SAW memberikan perhatian besar untuk menjelaskan kedudukan ilmu pengetahuan dan ulama, juga menjelaskan faktor-faktor yang mengantarkan kepada prestasi ilmiah. Mereka adalah sumber kebaikan dan orang-orang baik. Mereka mendapatkan pahala seperti seorang Mujahid di jalan ALLAH. Mereka adalah pewaris nabi-nabi. Dan Allah SWT memuliakan orang-orang yang berilmu yang menjalankan ilmunya dan bersifat ikhlas, diatas orang yang semata beribadah saja. Diantara wasiat Rasulullah SAW kepada para ulama adalah  agar mereka menjalankan apa yang mereka telah ketahui dan selanjutnya mengajarkannya kepada manusia. Maka baik sekali orang yang menjalankan apa yang telah ia ketahui. Sementara orang yang paling besar menerima azab di akhirat adalah orang yang berilmu pengetahuan tapi tidak menjalankan ilmunya, dan tak menagjarkannya kepada orang lain. Dari sini, para pemuda Islam harus benar-benar mencurahkan perhatiannya untuk mencari ilmu pengetahuan dan meraih kesuksesan, dengan dorongan kecintaan dan keinginan meneladani Rasulullah SAW.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: