Muslimin Sindangkerta

sukseskan wajib belajar 12 tahun

Pengertian Aswaja

Posted by musliminsindangkerta pada 14 Agustus 2010

Konsep Aswaja (Ahl Al-Sunnah wal-Jama’ah) selama ini masih belum dipahami secara tuntas, sehingga menjadi “rebutan” setiap golongan. Semua kelompok mengaku dirinya sebagai penganut ajaran ASWAJA. Tidak jarang, label itu digunakan untuk kepentingan sesaat. Jadi, apakah yang dimaksud dengan ASWAJA itu sebenarnya? Bagaimana pula dengan klaim itu, dapatkah dibenarkan?

Aswaja merupakan singkatan dari istilah Ahl-Sunnah Wa Al-Jama’ah. Ada tiga kata yang membentuk istilah tersebut.

  1. Ahl, berarti keluarga, golongan, pengikut.
  2. Al-Sunnah, yaitu segala sesuatu yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW. Maksudnya, semua yang datang dari Nabi Muhammad SAW, berupa perbuatan, ucapan dan pengakuan Nabi Muhammad SAW. (Fath Al-Bari, Juz XII. Hal 245)
  3. Al-Jama’ah, yakni apa yang telah disepakati oleh para Rasulullah SAW pada masa Al-Khulafa Al-Rasyidin (Kahlifah Abu Bakar Ra, Umar Bin Khattab Ra, Utsman Bin Affan Ra, dan Ali bin Abi Thalib Ra). Kata Jama’ah ini diambil dari Sabda Nabi Muhammad SAW.

مَن أَرَادَ بُحبُوحَةَ الْجَنَّةِ فَلْيَلْزَمِ الجَمَاعَةَ

“Barang siapa yang ingin mendapatkan kehidupan yang damai di surga, maka hendaklah ia mengikuti Al-Jama’ah (HR Tirmidzi, dan dishahihkan oleh Al-Hakim dan Al-Dzahabi) (Al-Mustadrak, Juz I, hal 77-78)

Sebagaimana telah dikemukakan oleh Syaikh Abdul Qadir Jaelani dalam kitabnya, Al-Ghunyah li Thalibi Thariq Al-Haqq

“yang dimaksud dengan Al-Sunnah adalah apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW (meliputi ucapan, perilaku, serta ketetapan Beliau). Sedangkan pengertian Al-Jama’ah adalah segala sesuatu yang telah menjadi kesepakatan para sahabat Nabi Muhammad SAW pada masa Khulafaur Rasyidin yang empat yang telah diberi hidayah (mudah-mudahan Allah SWT memberi rahmat pada mereka semua)”

Selanjutnya syaikh Abi al-Fadhl bin Abdussyakur menyebutkan dalam kitab al-Kawakib al-Lamma’ah:

“Yang disebut Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah adalah orang-orang yang selalu berpedoman pada sunnah Nabi SAW dan jalan para sahabatnya dalam masalah aqidah keagamaan, amal-amal lahiriyah, serta akhlaq hati”

Jadi Ahl As-Sunnah wa al-Jama’ah merupakan ajaran yang mengikuti semua yang telah dicontohkan Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Sebagai pembeda yang lain, ada tiga ciri dari kelompok ini, yakni tiga sikap yang selalu diajarkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Ketiga prinsip tersebut adalah:

  1. Al-Tawassuth (sikap tengah-tengah, sedang-sedang, tidak ekstrim kiri ataupun ekstrim kanan). Disarikan dari firman Allah SWT:

وَكَذَلِكَ جَعَلْنَاكُمْ أُمَّةً وَسَطًا لِتَكُونُوا شُهَدَاءَ عَلَى النَّاسِ وَيَكُونَ الرَّسُولُ عَلَيْكُمْ شَهِيدًا وَمَا جَعَلْنَا الْقِبْلَةَ الَّتِي كُنْتَ عَلَيْهَا إِلا لِنَعْلَمَ مَنْ يَتَّبِعُ الرَّسُولَ مِمَّنْ يَنْقَلِبُ عَلَى عَقِبَيْهِ وَإِنْ كَانَتْ لَكَبِيرَةً إِلا عَلَى الَّذِينَ هَدَى اللَّهُ وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيُضِيعَ إِيمَانَكُمْ إِنَّ اللَّهَ بِالنَّاسِ لَرَءُوفٌ رَحِيمٌ (١٤٣)

143. dan demikian (pula) Kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat yang adil dan pilihan[95] agar kamu menjadi saksi atas (perbuatan) manusia dan agar Rasul (Muhammad) menjadi saksi atas (perbuatan) kamu. dan Kami tidak menetapkan kiblat yang menjadi kiblatmu (sekarang) melainkan agar Kami mengetahui (supaya nyata) siapa yang mengikuti Rasul dan siapa yang membelot. dan sungguh (pemindahan kiblat) itu terasa Amat berat, kecuali bagi orang-orang yang telah diberi petunjuk oleh Allah; dan Allah tidak akan menyia-nyiakan imanmu. Sesungguhnya Allah Maha Pengasih lagi Maha Penyayang kepada manusia.

[95] Umat Islam dijadikan umat yang adil dan pilihan, karena mereka akan menjadi saksi atas perbuatan orang yang menyimpang dari kebenaran baik di dunia maupun di akhirat.

2. Al-Tawazun (seimbang dalam segala hal termasuk dalam penggunaan dalil ‘Aqli dan dalil Naqli). Firman Allah SWT:

لَقَدْ أَرْسَلْنَا رُسُلَنَا بِالْبَيِّنَاتِ وَأَنْزَلْنَا مَعَهُمُ الْكِتَابَ وَالْمِيزَانَ لِيَقُومَ النَّاسُ بِالْقِسْطِ وَأَنْزَلْنَا الْحَدِيدَ فِيهِ بَأْسٌ شَدِيدٌ وَمَنَافِعُ لِلنَّاسِ وَلِيَعْلَمَ اللَّهُ مَنْ يَنْصُرُهُ وَرُسُلَهُ بِالْغَيْبِ إِنَّ اللَّهَ قَوِيٌّ عَزِيزٌ (٢٥)

25. Sesungguhnya Kami telah mengutus Rasul-rasul Kami dengan membawa bukti-bukti yang nyata dan telah Kami turunkan bersama mereka Al kitab dan neraca (keadilan) supaya manusia dapat melaksanakan keadilan. dan Kami ciptakan besi yang padanya terdapat kekuatan yang hebat dan berbagai manfaat bagi manusia, (supaya mereka mempergunakan besi itu) dan supaya Allah mengetahui siapa yang menolong (agama)Nya dan rasul-rasul-Nya Padahal Allah tidak dilihatnya. Sesungguhnya Allah Maha kuat lagi Maha Perkasa.

3. Al-I’tidal (tegak lurus). Dalam Al-Qur’an disebutkan:

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا كُونُوا قَوَّامِينَ لِلَّهِ شُهَدَاءَ بِالْقِسْطِ وَلا يَجْرِمَنَّكُمْ شَنَآنُ قَوْمٍ عَلَى أَلا تَعْدِلُوا اعْدِلُوا هُوَ أَقْرَبُ لِلتَّقْوَى وَاتَّقُوا اللَّهَ إِنَّ اللَّهَ خَبِيرٌ بِمَا تَعْمَلُونَ (٨)

8. Hai orang-orang yang beriman hendaklah kamu Jadi orang-orang yang selalu menegakkan (kebenaran) karena Allah, menjadi saksi dengan adil. dan janganlah sekali-kali kebencianmu terhadap sesuatu kaum, mendorong kamu untuk Berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa. dan bertakwalah kepada Allah, Sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang kamu kerjakan.

Ketiga prinsip ini merupakan sikap tengah serta berimbang dalam setiap permasalahan. Misalnya, dalam masalah sifat dan dzat Allah SWT antara kelompok Mujassimah (Menyatakan Allah SWT memiliki anggota tubuh dan sifat seperti manusia) dan Mu’aththilah (tidak mengakui adanya sifat bagi Allah SWT), tentang perbuatan Allah SWT anatara Qadariyah (manusia memiliki kekuatan penuh atas dirinya) dan Jabariyah (manusia tidak memiliki daya apa-apa kecuali atas takdir Allah SWT), menyikapi janji dan ancaman Allah SWT antara Murji’ah (semua hukuman dan pembalasan diserahkan kepada Allah SWT) dan Wa’idiyyah (Allah SWT pasti akan menghukum orang-orang yang berdosa), sikap kepada ahlul bait dan sahabat Nabi Muhammad SAW antara Rafidhah/syi’ah (seluruh sahabat kafir dan ahlul bait adalah orang-orang yang maksum) dan khawarij (seluruh sahabat dan ahlul bait yang menjadi penyebab peperangan jamal dan shiffin dihukum kafir), dan lain sebagainya.

Ketiga prinsip tersebut dapat dilihat dalam masalah keyakinan keagamaan (teologi), perbuatan lahiriyah (fiqh) serta masalah akhlaq yang mengatur gerak hati (tashawwuf). Dalam praktik keseharian, ajaran Ahl al-Sunnah Wal al-Jama’ah dibidang teologi tercerminkan dalam rumusan yang digagas oleh Imam ‘Asyari dan Imam Maturidi. Sedangkan dalam masalah perbuatan badaniyyah terwujud dengan mengikuti madzhab yang empat, yakni Madzhab Hanafi, Madzhab Maliki, Madzhab Syafi’i, Madzhab Hanbali. Dalam Tashawwuf mengikuti Imam Juayd al-Baghdadi dan Imam Al-Ghazali.

Salah satu alasan dipilihnya ulama-ulama tersebut oleh Salafuna al-Shalih, sebagai panutan dalam Ahl al-Sunnah Wa al-Jama’ah, karena mereka telah terbukti mampu membawa ajaran-ajaran yang sesuai dengan inti sari agama Islam yang telah digariskan oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya. Dan mengikuti hal tersebut merupakan suatu kewajiban bagi umatnya. Nabi Muhammad SAW bersabda:

“Dari Abdurrahman bin Amral-Sulami, sesungguhnya ia mendengar al-Irbadh bin Sariyah berkata, “Rasulullah SAW menasehati kami, “kalian wajib berpegang teguh pada sunnahku (apa yang aku ajarkan) dan perilaku al-Khulafa al-Rasyidun yang mendapatkan petunjuk.” (Musnad Ahmad bin Hanbal, 16519)

Karena itu, sebenarnya Ahl as-Sunnah Wa al-Jama’ah merupakan Islam yang murni sebagaimana yang diajarkan oleh Nabi Muhammad SAW dan sesuai dengan apa yang telah digariskan dan diamalkan oleh para sahabatnya. Ketika Rasulullah SAW menerangkan bahwa umatnya akan terbagi menjadi 73 golongan, dengan tegas Nabi Muhammad SAW menyatakan bahwa yang benar adalah mereka yang berpedoman pada apa saja yang diperbuat oleh Nabi Muhammad SAW dan para sahabatnya pada waktu itu (Ma’na ‘alaihi al-yawm wa ashhabi).

Maka, Ahl al-Sunnah Wa al-Jama’ah sesungguhnya bukan aliran baru yang muncul sebagai reaksi dari beberapa aliran yang menyimpang dari ajaran hakiki agama Islam. Ahl al-Sunnah Wa al-Jama’ah justru berusaha untuk menjaga agama Islam dari beberapa aliran yang akan mencerabut ajaran islam dari akar dan pondasinya semula. Setelah aliran-aliran itu semakin merajalela, tentu diperlukan suatu gerakan untuk mensosialisasikan dan mengembangkan kembali ajaran murni Islam. Sekaligus salah satu jalan mempertahankan, memperjuangkan dan mengembalikan agama Islam agar tetap sesuai dengan apa yang telah diajarkan oleh Rasulullah SAW dan para sahabat beliau. (khittah Nahdhiyyah, 19-20)

Jika sekarang banyak kelompok yang mengaku dirinya Ahl al-Sunnah Wa al-Jama’ah, maka mereka harus membuktikannya dalam parktik keseharian bahwa ia benar-benar telah mengamalkan sunnah Rasulullah SAW dan sahabatnya. Abu Sa’id al-Khadimi berkata:

“(jika ada yang bertanya) semua kelompok mengaku dirinya sebagai golongan Ahl al-Sunnah Wa al-jama’ah, Jawaban kami adalah: bahwa Ahl al-Sunnah Wa al-jama’ah itu bukan hanya klaim semata, namun harus diwujudkan (diaplikasikan) dalam perbuatan dan ucapan. Pada jaman kita sekarang ini, perwujudan itu dapat dilihat dengan mengikuti apa yang tertera dalam Hadits-Hadits yang Shahih, seperti Shahih al-Bukhori, Shahih Muslim dan kitab-kitab lainnnya yang telah disepakati validitasnya” (Al-Bariqah Syarh al-Thariqah, hal 111-112)

Berdasarkan penjelasan di atas dapat dirumuskan bahwa Ahl al-Sunnah Wa al-Jama’ah merupakan ajaran yang sesuai dengan apa yang telah digariskan oleh Rasulullah SAW dan para sahabatnya. Dan itu tidak hanya sebatas klaim semata, namun harus dibuktikan dalam sikap dan tingkah laku sehari-hari.

5 Tanggapan to “Pengertian Aswaja”

  1. Tekst

  2. Good evening

    Awesome post, just want to say thanks for the share

  3. you’re welcome

  4. Abu Nada said

    Assalamu’alaykum…

    Artikel2nya bagus2🙂

    Silahkan berkunjung ke Blog Saya ya ..

  5. Wa’alaikum Salam Warahmatullahi Wabarokatu Wa Maghfirotu Wa Ridwanu..
    Syukron,, Insya Allah nanti berkunjung,

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: