Muslimin Sindangkerta

sukseskan wajib belajar 12 tahun

TIGA SENDI UTAMA AJARAN ISLAM

Posted by musliminsindangkerta pada 24 Juli 2010

Seperti yang sering dijelaskan, bahwa ada tiga pedoman ajaran yang menjadi standar ASWAJA (Ahl-Sunnah Wal-Jama’ah), yakni Tauhid (aqidah), Fiqh, dan Tashawwuf. Ini seolah-olah ingin mengatakan bahwa inti ajaran dalam agama Islam adalah tiga hal tersebut. Bagaimanakah hal itu sebenarnya?

Untuk menjawab pertanyaan ini, ada baiknya melihat Hadits Nabi Muhammad SAW yang menjelaskan tiga hal yang menjadi prinsip utama dalam agama yang di bawa Nabi Muhammad SAW. Dalam sebuah hadits diceritakan:

“dari umar bin khattab RA,. Pada suatu hari kami berkumpul bersama Rasulullah SAW., tiba-tiba datang seorang laki-laki yang bajunya sangat putih, rambutnya sangat hitam. Tidak kelihatan kalau dia melakukan perjalanan jarak jauh, dan tidak ada seorangpun dari kami mengenalnya. Laki-laki itu kemudian duduk dihadapan Nabi SAW,m sambil menempelkan kedua lututnya pada lutut Nabi SAW., sedangkan kedua tangannya diletakkan di atas paha Nabi SAW,. Laki-laki itu bertanya, “Wahai Muhammad beritahukanlah aku tentang Islam”. Rasulullah SAW., menjawab, “Islam adalah kamu bersaksi tiada tuhan selain Allah SWT dan Muhammad adalah utusan Allah SWT, mengerjakan shalat, menunaikan zakat, puasa pada bulan Romadhon dan kamu haji ke Baitullah jika kamu mampu melaksanakannya”. Laki-laki itu menjawab, “kamu benar”. Umar berkata, “Kami heran pada laki-laki tersebut, ia bertanya tapi ia sendiri yang membenarkannya”. Laki-laki itu bertanya lagi, “beritahukanlah aku tentang Iman”. Nabi SAW menjawab “Iman adalah engkau beriman pada Allah, malaikat-Nya, kitab-kitab-Nya, para rasul-Nya, hari kiamat, dan qadar Allah SWT yang baik dan yang buruk”. Laki-laki itu menjawab, “kamu benar”. Kemudian laki-laki itu bertanya lagi, “beritahukanlah aku tentang Ihsan. Nabi Muhammad SAW menjawab, “Ihsan adalah kamu menyembah Allah SWT seolah-olah kamu melihat-Nya, dan jika kamu tidak dapat melihat-Nya, maka sesungguhnya Allah melihatmu.

… kemudian orang itu pergi. Setelah itu, aku (Umar RA) diam beberapa saat. Kemudian Rasulullah SAW bertanya kepadaku, “Wahai Umar, siapakah orang yang datang tadi?” Umar menjawab, “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui. Nabi SAW lalu bersabda, “sesungguhnya laki-laki itu adalah Jibril. Ia datang untuk mengajarkan agamamu”. (shahih Muslim)

Memperhatikan hadits diatas, maka ada 3 hal yang penting yang menjadi inti dari Agama yang Nabi SAW ajarkan, yakni: Islam, Iman, Ihsan. Ketiga hal tersebut merupakan satu kesatuan utuh yang tidak bisa dipisahkan antara yang satu dengan yang lainnya. Dalam pengamalan kehidupan beragama, tiga perkara itu harus diterapkan secara bersamaan tanpa melakukan pembedaan. Seorang muslim tidak diperkenankan terlalu mementingkan aspek Iman dan meninggalkan dimensi Ihsan dan Islam. Dan begitu seterusnya. Sebagaimana firman Allah SWT:

Hai orang-orang yang beriman, masuklah kamu ke dalam Islam keseluruhan, dan janganlah kamu turut langkah-langkah syaitan. Sesungguhnya syaitan itu musuh yang nyata bagimu. (Al-Baqarah:208)

Awalnya, iman, islam dan ihsan merupakan satu kesatuan yang tidak terbagi-bagi. Namun perkembangan selanjutnya, para ulama memisahkan tiga hal tersebut sehingga menjadi bagian ilmu tersendiri.

Menurut KH. Ahmad Siddiq, alasan pemisahan tersebut dikarenakan:

Pertama: karena kecenderungan manusia yang selalu memperhatikan Juz’iyyah (bagian/parsial), setelah melihat secara Kulliyah (keseluruhan/global), atau kecenderungan pada diri manusia yang ingin memerinci sesuatu global dan pada gilirannya mengutuhkan kembali sesuatu yang terperinci tersebut.

Kedua: Pengaruh perkembangan dan metologi ilmu pengetahuan, dimana pengetahuan terhadap satu bagian ilmu sering dikembangkan sedemikian rupa sehingga menjadi suatu cabang ilmu pengetahuan yang terpisah dari yang lainnya.

Ketiga: karena pengaruh perkembangan zaman. Hal ini dilakukan untuk menjawab kebutuhan zaman yang mengharuskan adanya pengkhususan (spesifikasi) terhadap beberapa disiplin keilmuan, sehingga dapat mempermudah untuk dipelajari.

Akhirnya ditarik suatu kesimpulan tentang pembagian iman, islam, ihsan. Iman dikhususkan pada perhatian terhadap dimensi ketauhidan kepada Allah SWT, islam ditujukan pada perbuatan lahiriyah, dan ihsan dititikberatkan pada rohaniyah.

Dalam perkembangan selanjutnya, bagian-bagian itu dielaborasi oleh para ulama sehingga menjadi bagian ilmu yang berbeda. Perhatian terhadap iman memunculkan ilmu tauhid atau ilmu kalam. Perhatian khusus pada aspek islam (dalam pengertian yang sempit) menghadirkan ilmu fiqh atau ilmu hukum islam. Dan penelitian terhadap dimensi ihsan melahirkan ilmu tashawwuf atau ilmu akhlaq.

Dari penjelasan diatas, dapat ditarik benang merahnya bahwa inti ajaran islam adalah iman, islam, ihsan yang harus diamalkan secara kaffah. Dan dari perjalanan sejarah, secara keilmuan berkembang dan dielaborasi menjadi ilmu tauhid, fiqh, dan tashawwuf.

(sumber: FIQH tradisionalis – KH. MUHYIDDI ABDUSSOMAD)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: