Muslimin Sindangkerta

sukseskan wajib belajar 12 tahun

Belaian Cinta di Purnama

Posted by musliminsindangkerta pada 20 Juli 2010

Tinggal di pelosok desa yang masih sangat sunyi dan belum dialiri 
listrik membuat  kumpul keluarga di rumahku menjadi acara pokok setiap 
malam. Dongeng dari papa dan mama menjadi rutinitas yang tak sengaja 
ditunggu. Papa lebih cenderung cerita yang seram-seram, tentang mayat yang 
bangkit dari kuburan, tentang bayi yang dibuang ke sumur tua dan 
cerita-cerita lainnya yang mampu membuat kami menjerit sekuatnya.  Kata papa 
sih, biar kami jadi anak-anak yang berani. Benar juga, efeknya terasa 
sekarang. Kami seakan kebal dengan segala cerita horror.  Mama? Tentu saja dengan fitrahnya sebagai seorang muslimah dengan 
segala sisi kelembutan memilih jalur lain. Mama lebih banyak bercerita 
tentang malin kundang yang durhaka, tentang nasi yang menangis bila 
ditinggalkan, tentang kewajiban mama saat seusiaku dan pelajaran lain yang 
kadang sangat menyebalkan untuk didengar. Namun, ada satu dongeng yang 
tetap kukenang sampai sekarang. Dongeng tentang cinta di bulan purnama. 
  
Aku dan adik-adik sangat senang dengan kehadiran purnama, karena kami 
bisa main sepuasnya di luar rumah. Sampai suatu saat adikku yang waktu 
itu masih berumur lima tahun menunjuk bulan dan bertanya “Kak, itu 
gambar apa yang ada di bulan ?”. Belum sempat kujawab, mama dengan kasihnya 
menerangkan,  “Itu gambar seorang ibu yang sedang menyusui anaknya”. 
Aku menajamkan pandangan dan gambar itu semakin jelas. Ya!Mirip gambar 
seorang ibu yang sedang menggendong dan membelai anaknya. Aku juga belum 
mengerti ketika itu karena umurku baru menginjak delapan tahun. Aku 
ikut bertanya “Kenapa menyusui harus ke bulan ?” Mama akhirnya bercerita 
“Itu hanya gambar, karena Tuhan punya cara sendiri untuk menyayangi Ibu, 
maka Tuhan melukis gambar itu agar anak-anak selalu ingat bahwa ibu 
selalu sayang sama anaknya. Mama berharap setiap kali kalian memandang 
purnama, kalian juga ingat sama mama.” 
 
 Yah, itu hanya dongeng sederhana dari seorang ibu, tapi pengaruhnya 
sangat besar ! Di kala aku jauh dari mama. Aku sangat merindukan kehadiran 
purnama. Sambil menatap bulan, waktu berpendar.. membawaku jauh ke 
pelataran cinta mama. Tidak hanya mama, aku ingat satu per satu wajah 
adik-adikku dan kebahagiaan ketika kami masih bersama-sama. Pernah di satu 
waktu, kami berkumpul kembali, adikku bertanya “Kak, masih ingat ga 
cerita mama tentang cinta di bulan purnama ?” Subhanallaah, ternyata adikku 
pun masih mengingatnya. Pertemuan itu menghadirkan nostalgia yang 
indah. Dimanapun ada purnama, di situlah hati kami dipersatukan dalam rasa 
rindu yang sangat kuat, di situ jgua berbait rasa syukur dan  berantai 
doa yang tak terputus kupanjatkan agar mama dan papa dimuliakan Allah..
  
Sahabat-sahabat, kenanglah dongeng-dongeng yang pernah dilantunkan 
orang tua kita. Dulu, mungkin kita belum mengerti.. tapi sekarang, alangkah 
indahnya ketika hikmah itu terbentang di depan mata. Terimakasih ya 
Allah…. Hanya Engkau Yang Maha Tahu cara membahagiakan hati-hati hamba-Mu.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: