Muslimin Sindangkerta

sukseskan wajib belajar 12 tahun

KIPER BARU URUGUAY

Posted by musliminsindangkerta pada 5 Juli 2010

Ah, lagi-lagi sebuah hukuman yang tak sepadan. Badan Sepak Bola Dunia (FIFA) hanya menjatuhkan skorsing satu pertandingan bagi Luis Suarez. Hukuman yang sebenarnya sudah otomatis lantaran kartu merah yang ia dapatkan. Tapi bagaimana dengan sportifitas dan asas Fair Play yang diagung-agungkan itu?

Setiap kali sebelum pertandingan bendera besar Fair Play selalu dikibarkan di tengah lapangan. Tapi apa yang dilakukan Suarez ketika menahan bola — sebelum bola masuk ke garis gawang saat melawan Ghana — jauh, jauh, dan jauh dari yang namanya Fair Play. Lebih tepatnya sebuah kecurangan.

Reaksinya cepat, tangkapannya pun mantap. Tunggu… dia kan bukan kiper? tapi penyerang. Kenapa pula dia menangkap bola?

Langkah wasit Olegario Benquerenca mengkartumerahkan Suarez di pertandingan itu sudah tepat. Meski kegagalan Asamoah Gyan mengeksekusi penalti juga menjadi cerita lain kegagalan Ghana memenangkan pertandingan. Mereka kemudian tersingkir dalam adu penalti sekaligus memupus harapan benua Afrika meloloskan wakilnya ke semifinal untuk pertama kalinya.

Lolosnya Uruguay ke semifinal — untuk pertama kalinya dalam 40 tahun — memang prestasi buat mereka, tapi apakah prestasi buat sepak bola jika didapat dengan cara itu? FIFA seharusnya lebih tegas menjatuhkan sanksi. Apalagi tak ada penyesalan sama sekali dari kubu Uruguay.

Pelatih Uruguay Oscar Tabarez mengatakan:

“Benar, ia sengaja menepis bola dengan tangannya, tapi apakah itu tindakan curang? Saya pikir itu reaksi instingtif. Ketika ia menepis bola dengan tangannya, ia tak tahu Ghana akan gagal menendang penalti. Apakah Suarez juga bersalah atas kegagalan Ghana dalam adu tendangan penalti?”

Reaksi? Jika seorang striker bereaksi, Suarez seharusnya menendang bola atau setidaknya menyundul, bukan menangkap bola, itu tugas kiper. Ternyata urusan menangkap bola memang jadi keahlian lain pemain Ajax Amsterdam ini:

“The Hand of God sekarang punya saya. Saya membuat penyalamatan terbaik di turnamen. Kadang saat latihan saya juga menjadi kiper dan ternyata diperlukan juga. Saya tak punya pilihan lain. Ketika mereka gagal melakukan penalti saya berpikir ini keajaiban karena kami masih bertahan di turnamen ini.”

Keajaiban? Ah, sebuah alasan yang tak masuk akal. Menurut Anda hukuman satu pertandingan ini sepadan atau tidak?

(sumber: Yahoo Indonesia)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: