Muslimin Sindangkerta

sukseskan wajib belajar 12 tahun

Guru, Pendidik Profesional dalam Mengajar

Posted by musliminsindangkerta pada 16 Januari 2010

Guru, Pendidik Profesional dalam Mengajar
Oleh: WAHYU CATUR WIBOWO, S.SI-Teol.
ADA ungkapan dalam bahasa Jawa, guru iku digugu lan ditiru, yang artinya kurang lebih guru itu ditaati dan diteladani. Seorang guru akan selalu ditaati perkataannya, serta ditiru siswa, apa yang dilakukannya.

Ungkapan ini memiliki makna filosofis yang sangat dalam. Seorang guru tidak hanya menjadi pengajar, yang tugasnya menyampaikan materi pelajaran kepada siswanya. Ia juga tidak sekadar memenuhi administrasi pengajaran, seperti silabus, program satu tahun (prosata), rencana pelaksanaan pembelajaran (RPP) maupun program sertifikasi guru, yang sekarang digalakkan oleh pemerintah. Hal-hal tersebut memang wajib dipenuhi, tetapi itu baru sebagian kecil dari tugas dan tanggung jawab guru sebagai pengajar.

Guru yang hanya terpaku pada pengajaran dan pemenuhan tuntutan administrasinya, belum dapat disebut sebagai guru yang bisa digugu dan ditiru. Profesi guru jangan digunakan untuk mencari nafkah saja tanpa mengedepankan pendidikan. Jika ini yang terjadi, maka profesi guru tidak ada bedanya dengan profesi lain seperti kuli. Ia akan kehilangan jiwa keguruannya, bahkan mengingkari jati dirinya.

Profesi guru seharusnya tidak berhenti pada proses pengajarannya, melainkan terus berlanjut pada proses pendidikannya. Memang benar bahwa guru harus menyampaikan pengajarannya secara profesional. Namun itu belum cukup. Dalam profesionalismenya ada nilai plus yang harus dimiliki oleh seorang guru, yaitu keteladanan, integritas yang tinggi, baik melalui kata maupun tindakan. Ia harus memiliki sikap peduli kepada para siswa, rela meluangkan waktunya untuk membantu mereka yang kesulitan dalam pelajaran maupun dalam mengambil sebuah keputusan. Sebagai seorang yang beragama, guru sebaiknya menyediakan waktu untuk mendoakan para siswanya, terutama mereka yang membutuhkan pertolongan.

Seorang guru tidak sepantasnya menyerah ketika mendapati para siswanya mengalami kemunduran belajar. Ia juga harus bijak dalam menyikapi kenakalan remaja yang muncul. Baginya tidak ada cara lain kecuali ia harus rela bersabar serta tekun memberi bimbingan dan penyuluhan. Ia tidak boleh mengabaikan atau mengecam begitu saja siswa yang terlibat di dalamnya.

Dalam kehidupan masyarakat, seorang guru harus memiliki kesadaran tinggi bahwa dirinya adalah seorang pendidik. Sehingga ia pun dapat memberi teladan dalam berkata dan bertindak di tengah masyarakat di mana ia berada. Kesadaran ini seyogianya masuk dan turut mewarnai seluruh sendi kehidupannya. Dengan demikian, guru itu benar-benar dapat digugu dan ditiru oleh para siswa, rekan kerja serta masyarakat di sekitarnya. Inilah makna guru sebagai pendidik yang sebenarnya, memberi keteladanan melalui kata dan tindakan dalam profesionalismenya.

Begitu banyak tuntutan yang harus dipenuhi seorang guru. Sudah saatnya jika pemerintah memperhatikan kesejahteraan mereka. Sudah sepantasnya pula, jika guru mendapatkan gelar pahlawan, meskipun tanpa tanda jasa. (Penulis, guru PAK SMFK BPK Penabur Bandung)** (sumber: galamedia)

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

 
%d blogger menyukai ini: